UMKM Jabar 001UMKM Jabar 002UMKM Jabar 003UMKM Jabar 004UMKM Jabar 005UMKM Jabar 006UMKM Jabar 007UMKM Jabar 008UMKM Jabar 009UMKM Jabar 010Berita Kutai Timur 23001Berita Kutai Timur 23002Berita Kutai Timur 23003Berita Kutai Timur 23004Berita Kutai Timur 23005Berita Kutai Timur 23006Berita Kutai Timur 23007Berita Kutai Timur 23008Berita Kutai Timur 23009Berita Kutai Timur 23010Berita Kutai Timur 23011Berita Kutai Timur 23012Berita Kutai Timur 23013Berita Kutai Timur 23014Berita Kutai Timur 23015Berita Kutai Timur 23016Berita Kutai Timur 23017Berita Kutai Timur 23018Berita Kutai Timur 23019Berita Kutai Timur 23020oncology radiotherapy 901001oncology radiotherapy 901002oncology radiotherapy 901003oncology radiotherapy 901004oncology radiotherapy 901005oncology radiotherapy 901006oncology radiotherapy 901007oncology radiotherapy 901008oncology radiotherapy 901009oncology radiotherapy 901010oncology radiotherapy 901011oncology radiotherapy 901012oncology radiotherapy 901013oncology radiotherapy 901014oncology radiotherapy 901015oncology radiotherapy 901016oncology radiotherapy 901017oncology radiotherapy 901018oncology radiotherapy 901019oncology radiotherapy 901020Ejournal STIP Jakarta 2311Ejournal STIP Jakarta 2312Ejournal STIP Jakarta 2313Ejournal STIP Jakarta 2314Ejournal STIP Jakarta 2315Ejournal STIP Jakarta 2316Ejournal STIP Jakarta 2317Ejournal STIP Jakarta 2318Ejournal STIP Jakarta 2319Ejournal STIP Jakarta 2320Ejournal STIP Jakarta 2321Ejournal STIP Jakarta 2322Ejournal STIP Jakarta 2323Ejournal STIP Jakarta 2324Ejournal STIP Jakarta 2325Ejournal STIP Jakarta 2326Ejournal STIP Jakarta 2327Ejournal STIP Jakarta 2328Ejournal STIP Jakarta 2329Ejournal STIP Jakarta 2330Ejournal STIP Jakarta 2331Ejournal STIP Jakarta 2332Ejournal STIP Jakarta 2333Ejournal STIP Jakarta 2334Ejournal STIP Jakarta 2335Ejournal STIP Jakarta 2336Ejournal STIP Jakarta 2337Ejournal STIP Jakarta 2338Ejournal STIP Jakarta 2339Ejournal STIP Jakarta 2340Journal Cattleyadf Indonesia 061Journal Cattleyadf Indonesia 062Journal Cattleyadf Indonesia 063Journal Cattleyadf Indonesia 064Journal Cattleyadf Indonesia 065Journal Cattleyadf Indonesia 066Journal Cattleyadf Indonesia 067Journal Cattleyadf Indonesia 068Journal Cattleyadf Indonesia 069Journal Cattleyadf Indonesia 070Journal Cattleyadf Indonesia 071Journal Cattleyadf Indonesia 072Journal Cattleyadf Indonesia 073Journal Cattleyadf Indonesia 074Journal Cattleyadf Indonesia 075Journal Cattleyadf Indonesia 076Journal Cattleyadf Indonesia 077Journal Cattleyadf Indonesia 078Journal Cattleyadf Indonesia 079Journal Cattleyadf Indonesia 080Journal Cattleyadf Indonesia 081Journal Cattleyadf Indonesia 082Journal Cattleyadf Indonesia 083Journal Cattleyadf Indonesia 084Journal Cattleyadf Indonesia 085Journal Cattleyadf Indonesia 086Journal Cattleyadf Indonesia 087Journal Cattleyadf Indonesia 088Journal Cattleyadf Indonesia 089Journal Cattleyadf Indonesia 090Universitas Alifa 001Universitas Alifa 002Universitas Alifa 003Universitas Alifa 004Universitas Alifa 005Universitas Alifa 006Universitas Alifa 007Universitas Alifa 008Universitas Alifa 009Universitas Alifa 010Universitas Alifa 011Universitas Alifa 012Universitas Alifa 013Universitas Alifa 014Universitas Alifa 015Universitas Alifa 016Universitas Alifa 017Universitas Alifa 018Universitas Alifa 019Universitas Alifa 020Jurnal Alifa Indonesia 009301Jurnal Alifa Indonesia 009302Jurnal Alifa Indonesia 009303Jurnal Alifa Indonesia 009304Jurnal Alifa Indonesia 009305Jurnal Alifa Indonesia 009306Jurnal Alifa Indonesia 009307Jurnal Alifa Indonesia 009308Jurnal Alifa Indonesia 009309Jurnal Alifa Indonesia 009310Jurnal Alifa Indonesia 009311Jurnal Alifa Indonesia 009312Jurnal Alifa Indonesia 009313Jurnal Alifa Indonesia 009314Jurnal Alifa Indonesia 009315Jurnal Alifa Indonesia 009316Jurnal Alifa Indonesia 009317Jurnal Alifa Indonesia 009318Jurnal Alifa Indonesia 009319Jurnal Alifa Indonesia 009320Global Media Journal Indonesia 001Global Media Journal Indonesia 002Global Media Journal Indonesia 003Global Media Journal Indonesia 004Global Media Journal Indonesia 005Global Media Journal Indonesia 006Global Media Journal Indonesia 007Global Media Journal Indonesia 008Global Media Journal Indonesia 009Global Media Journal Indonesia 010Global Media Journal Indonesia 011Global Media Journal Indonesia 012Global Media Journal Indonesia 013Global Media Journal Indonesia 014Global Media Journal Indonesia 015Global Media Journal Indonesia 016Global Media Journal Indonesia 017Global Media Journal Indonesia 018Global Media Journal Indonesia 019Global Media Journal Indonesia 020

megaofficial.top

Berita Olahraga

Susahnya Pemain Liga Inggris Raih Ballon d’Or

megaofficial.top – Pemain Liga Inggris menghadapi kesulitan besar untuk memenangkan Ballon d’Or, penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola. Susahnya Pemain Liga Inggris Menangi Ballon d’Or terlihat dari dominasi pemain La Liga dan faktor penilaian yang kompleks. Untuk itu, artikel ini membahas sejarah minimnya pemenang dari Premier League, faktor penyebab, performa pemain top, kontroversi voting, dan peluang masa depan, dengan fokus pada musim 2024/25 hingga September 2025.

Sejarah Minim di Pemain Liga Inggris Ballon d’Or 2025

Hanya enam pemain Liga Inggris yang pernah memenangkan Ballon d’Or sejak 1956: Stanley Matthews (1956), Bobby Charlton (1966), Kevin Keegan (1978, 1979), Michael Owen (2001), Cristiano Ronaldo (2008), dan Rodri (2024). Selain itu, dari 69 edisi Ballon d’Or hingga 2025, hanya tujuh kemenangan berasal dari Premier League, dibandingkan 24 kemenangan La Liga. Untuk itu, dominasi Barcelona dan Real Madrid, dengan 12 kemenangan masing-masing, menunjukkan kesenjangan. Meski begitu, Liga Inggris dikenal sebagai liga paling kompetitif. Oleh karena itu, minimnya pemenang Ballon d’Or menimbulkan pertanyaan. Dengan demikian, Susahnya Pemain Liga Inggris Menangi Ballon d’Or mencerminkan tantangan historis.

Menurut CNN Indonesia (web:0), hanya Cristiano Ronaldo (2008) dan Michael Owen (2001) memenangkan Ballon d’Or saat berkarier di Premier League sejak 1992.

Faktor Penyebab di Tantangan Ballon d’Or Liga Inggris

Beberapa faktor menyebabkan sulitnya pemain Liga Inggris menang. Pertama, penilaian Ballon d’Or mengutamakan trofi tim, terutama Liga Champions. Selain itu, La Liga sering mendominasi kompetisi Eropa, dengan Real Madrid dan Barcelona memenangkan 12 dari 20 gelar UCL sejak 2005. Untuk itu, pemain seperti Lionel Messi (8 Ballon d’Or) dan Cristiano Ronaldo (5 Ballon d’Or) diuntungkan oleh kesuksesan klub Spanyol. Meski begitu, Liga Inggris memiliki intensitas tinggi yang menyulitkan pemain menonjol secara individu. Oleh karena itu, voting oleh 180 jurnalis dari 100 negara FIFA cenderung memihak pemain dari liga dengan sorotan media lebih besar. Dengan demikian, faktor ini menghambat bintang Premier League.

Postingan di X dari @premierleague (22 Sep 2025) menyebut Rodri, Ronaldo, dan Owen sebagai satu-satunya pemenang Ballon d’Or dari Liga Inggris (post:3).

Performa Pemain Top di Pemain Liga Inggris Ballon d’Or 2025

Musim 2024/25 menampilkan bintang seperti Erling Haaland, Cole Palmer, dan Mohamed Salah, namun hanya Rodri dari Manchester City yang memenangkan Ballon d’Or 2024. Haaland, dengan 52 gol musim lalu, hanya finis ke-26 di Ballon d’Or 2025, menurut Tirto.id (web:14). Selain itu, Palmer (22 gol, 11 assist) dan Salah (20 gol, 14 assist) gagal masuk 10 besar. Untuk itu, performa individu luar biasa sering kalah dari pencapaian tim di Liga Champions, seperti Ousmane Dembele (PSG) yang menang pada 2025 berkat quadruple. Meski begitu, Rodri membuktikan pemain Liga Inggris bisa bersaing. Oleh karena itu, konsistensi dan trofi tim jadi kunci. Dengan demikian, peluang pemain seperti Phil Foden atau Bukayo Saka tetap terbuka.

Bola.net (web:2) mencatat Virgil van Dijk sebagai satu-satunya pemain Liga Inggris di tiga besar Ballon d’Or (2019) sejak Ronaldo pada 2008.

Kontroversi Voting di Tantangan Ballon d’Or Liga Inggris

Voting Ballon d’Or sering memicu kontroversi. Pada 2013, Franck Ribery (Bayern Munich) kalah dari Cristiano Ronaldo meski meraih treble. Selain itu, pada 2019, Virgil van Dijk kalah dari Messi, meski membawa Liverpool juara Liga Champions. Untuk itu, kriteria penilaian, seperti performa individu, trofi tim, dan fair play, sering dianggap bias. Meski begitu, perubahan aturan pada 2022, yang fokus pada performa musiman (Agustus-Juli), memberi peluang lebih adil. Oleh karena itu, kurangnya sorotan media pada Liga Inggris di panggung global jadi faktor tambahan. Dengan demikian, Susahnya Pemain Liga Inggris Menangi Ballon d’Or terkait erat dengan dinamika voting.

Tirto.id (web:16) menyebut Ballon d’Or 2023 kontroversial karena Haaland, dengan 53 gol dan treble, kalah dari Messi yang unggul di Piala Dunia.

Peluang Masa Depan di Pemain Liga Inggris Ballon d’Or 2025

Pemain muda seperti Phil Foden, Bukayo Saka, dan Cole Palmer punya potensi besar. Selain itu, kesuksesan klub seperti Manchester City, Liverpool, atau Arsenal di Liga Champions bisa meningkatkan peluang. Untuk itu, Foden, yang meraih PFA Player of the Year 2024/25, jadi kandidat kuat jika City mendominasi Eropa. Meski begitu, tantangan tetap ada karena rivalitas dengan bintang seperti Kylian Mbappe atau Lamine Yamal. Oleh karena itu, klub Liga Inggris harus fokus pada kesuksesan kontinental. Dengan demikian, peluang Ballon d’Or bagi pemain Premier League akan meningkat.

Libero.id (web:11) memprediksi Foden dan Saka sebagai kandidat potensial Ballon d’Or masa depan berkat performa dan usia muda mereka.

Latar Belakang dan Konteks

Ballon d’Or, yang diselenggarakan France Football sejak 1956, awalnya hanya untuk pemain Eropa, lalu terbuka global pada 2007. Selain itu, voting oleh jurnalis dari 100 negara FIFA membuat penghargaan ini bergengsi namun subjektif. Untuk itu, dominasi La Liga, dengan 24 kemenangan, mencerminkan fokus pada trofi Eropa. Meski begitu, Liga Inggris tetap kompetitif, dengan tujuh klub di 10 besar UEFA Club Rankings 2025. Oleh karena itu, kesuksesan di Liga Champions jadi kunci.

Tantangan dan Solusi

Tantangan utama adalah dominasi klub Spanyol di Eropa dan bias voting terhadap pemain serang. Selain itu, intensitas Liga Inggris sering mengurangi sorotan individu. Untuk itu, klub harus memprioritaskan Liga Champions, dan pemain perlu performa konsisten seperti Rodri (2024). Meski begitu, kurangnya narasi media global untuk pemain Liga Inggris jadi hambatan. Oleh karena itu, promosi lebih agresif oleh klub dan FA bisa membantu.

Kesimpulan

Susahnya Pemain Liga Inggris Menangi Ballon d’Or terlihat dari minimnya pemenang (hanya 6 sejak 1956) dan dominasi La Liga. Faktor seperti fokus pada Liga Champions, bias voting, dan intensitas liga jadi penyebab. Untuk itu, pemain seperti Foden, Saka, atau Palmer perlu trofi Eropa untuk bersaing. Meski begitu, Rodri membuktikan peluang tetap ada. Dengan demikian, kesuksesan klub di Eropa akan membuka jalan bagi bintang Liga Inggris. Pantau musim 2025/26 untuk peluang baru!